Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Joko Susanto

Di Pinggir Telaga, Kudengar Cerita

Wisata | 2025-02-25 06:00:34

Pernah tebersit dalam benak saya semoga suatu saat dapat berbincang santai dengan guru saya dalam suasana berbeda, di lokasi yang tidak biasa. Sebuah harapan sederhana yang tertunda karena jarak memisahkan kami dengan rentang geografis sekitar 580 kilometer.

Allah Maha Baik. Medio Desember 2024 lalu kesempatan itu datang menyapaku. Ketika saya sambang berkunjung ke rumah orang tua di Rembang, guru SMP saya yang purna bakti 1 Februari 2024 lalu berkabar akan hadir ke tempat kami. His name is Mr. Suharno. Bahagia sekali guru inspiratifku berkenan mau mampir ke rumah masa kecilku yang hingga sekarang ditempati ayah, ibu, dan adik saya.

Sabtu pagi bersama Pak Guru di pinggir telaga (dok pribadi)

Baru sekitar tiga puluh menit sebelumnya, saya tiba dari perjalanan Jakarta-Rembang. Semalaman naik bus dari Grogol Jakarta Barat dan hampir sebelas jam waktu tempuh via Pantura. Turun dari bus, saudara saya sudah menunggu dengan sepeda motornya di halaman masjid Kaliori pertigaan jalan, pagi itu. Tiba di dusun, bersyukur sekali saya melihat ibu dan bapak saya dalam keadaan sehat. Ibu sedang di dapur dan bapak baru membuang pupuk kandang ke sawah di wetan omah. Makin berbunga ketika ada kabar dari Pak Guru.

"Saya sudah di embung Semambung," pesan Pak Suharno Sabtu pagi itu. Penanda waktu menunjukkan angka 06.30 WIB. Rumahnya sekitar lima kilometer sebelah selatan embung itu. Saya segera mengambil sepeda pancal dan mengayuhnya sekitar 700 meter menuju telaga buatan itu. Udara pagi perdesaan di musim tanam padi terasa lebih sejuk dibanding bulan-bulan lainnya untuk daerah tadah hujan.

Dan benar, di tempat duduk pinggir telaga itu Pak Guru telah menunggu. Sebuah sepeda pancal Phoenix hitam variasi hijau terparkir di dekatnya. Maka, sepeda saya kemudian saya dekatkan. Kami pun duduk di kursi panjang yang terbuat dari semen menghadap air yang tenang namun tak terlalu dalam.

Embung Semambung di belakang kami.

Lulusan Bahasa Inggris IKIP Semarang tahun 1984 itu kemudian berbagi kisah hidupnya. Sosok energik ini berasal dari daerah penghasil susu sapi yaitu Boyolali. Dahulu, ketika pengumuman penempatan ada namanya ditugaskan di sebuah sekolah di Boyolali tetapi mata pelajaran seni musik. Lho, kok ngajar seni musik? Batinnya keheranan. Ternyata hanya kesamaan nama belaka. Karena ada satu nama lagi ditempatkan di SMP Negeri Sumber Rembang, mata pelajaran bahasa Inggris. Berarti garis takdir menuntun beliau ke Rembang.

Maka mulai 1 Maret 1985 secara resmi menjadi pendidik di sekolah yang di belakangnya terhampar ladang tebu dan kuburan desa di sebelah barat.

Ibu bapak saya dan Pak Guru dengan sebuah buku goresan pena saya

Ketika kami kelas I-A, Pak Suharno adalah wali kelas kami. Saya ditunjuk teman-teman menjadi sekretaris. "Jok, nanti tulis Punggawa I-A ya," usul Pak Harno suatu pagi. Hari itu penyusunan struktur organisasi kelas karena masih awal tahun ajaran. Pada titik ini saya menyimpulkan beliau mengajari 'out of the box' alias anti mainstream. Umumnya mesti 'bagan organisasi atau struktur organisasi.' Metode mengajarnya pun menarik. Pernah pula diadakan kuis TTS bahasa Inggris untuk seluruh siswa berhadiah buku kamus. Beliau aktif di berbagai kegiatan termasuk Pramuka. Ketika kami kehausan lomba gerak jalan, beliau sudah menyiapkan puluhan teh botol untuk kami.

Dari tepi telaga itu, saya mendapat pelajaran perlunya bersyukur atas nikmat kesehatan dan karunia lainnya.

"Apa resep Pak Guru kok begitu semangat tak kenal lelah bahkan hingga pensiun pun?" Saya penasaran.

"Jalani tugas dengan senang hati dan penuh tanggung jawab, kalau bisa, memberi teladan buat yang lain, ingat selalu Sang Pencipta," tuturnya. Luar biasa! Setahu saya, meskipun beliau purna tugas tetapi masih aktif di berbagai aktivitas termasuk PGRI dan ekstra kurikuler. Pun rutin gowes, jalan kaki, dan ke ladang tentu saja. Sehat selalu Pak. Mentari sudah meninggi maka kami gowes bareng ke rumah.

Pak Guru (dua dari kanan) ketika berkenan singgah ke rumah kami

Sudah menjadi kewajiban setiap anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Demikian pula seorang murid mesti menghormati jasa guru-gurunya. Terus terang saya masih berproses belajar memantaskan diri menjadi anak dan murid yang bisa berbalas budi, meskipun kebaikan, ketulusan, dan kehangatan mereka tak kan pernah bisa kita balas dengan apa pun.

Thank you very much, Mr. Suharno. May Allah SWT bless and protect us. Keep moving forward, SMP Negeri Sumber Rembang. See you again. Insya Allah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image