
Ramadhan dan Kita yang Sok Sibuk
Agama | 2025-03-10 17:22:03Catatan Ramadhan # 09
Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Founder Edu Sufistik)
Sejatinya, manusia itu makhluk spiritual yang menempati jasad kasar. Pada proses penyempurnaan ciptaannya, manusia memperoleh percikan sifat-sifat ketuhanan (QS. 32: 9). Misalnya, pada fitrahnya setiap manusia pasti menyukai kasih sayang. Karena, memperoleh percikan sifat Allah, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim. Karenanya, pada fitrahnya manusia cenderung ingin selalu mendekat (uns) kepada Tuhannya.
Hanya kemudian pada sebagian manusia potensi fitrah ini menjadi redup, bahkan bisa hilang karena terjerat memperturutkan dorongan hawa nafsunya. Jadilah ia manusia yang hampa ruhani dan berubah menjadi manusia materi.
Saat Ramadhan tiba, ia seolah tidak peduli. Orientasinya tetap materi. Omset bisnis tidak boleh turun karena Ramadhan. Ia terjebak mengejar harta dunia yang tiada ujung. Sok sibuk seolah tak ada waktu untuk menemui Tuhannya dalam kesyahduan.
Ramadhan seharusnya menjadi pit stop ruhani bagi kita. Berhenti sejenak dari hiruk pikuk kesibukan dunia. Menyapa ruhani yang mungkin sudah mulai merana. Shalat dilakukan, tapi tak ada rasa. Zakat dan sedekah ditunaikan, namun hati tetap gersang. Sejatinya, itu alarm agar kita menemui Tuhan dalam kesyahduan. Ibadah yang dihayati, bukan diburu-buru. Mengaji yang ditadaburi, bukan sepintas lalu.
Ramadhan ini masihkah kita sok sibuk dengan berbagai urusan dunia? Yang jelas Ramadhan pasti berlalu. Mungkin rasa sesal menyia-nyiakan Ramadhan baru hadir ketika takdir menentukan itu Ramadhan terakhir kita. Sayangnya penyesalan saat itu tiada guna. Ramadhan sudah tidak pernah lagi menyapa kita karena ajal menyapa lebih dulu.
Wallaahu a’lam
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook