Ini Keistimewaan Malam Lailatul Qadar

Agama  
Keterangan: Ilustrasi seorang Muslim membaca Al-Quran di masjid 
Keterangan: Ilustrasi seorang Muslim membaca Al-Quran di masjid

Sumber: Republika

NYANTRI--Malam lailatul Qadar adalah malam yang agung serta ditunggu-tunggu oleh umat islam ketika Ramadlan. Sebab terdapat banyak keistimewaan di dalamnya. Di antaranya adalah:

1. Al-Qur’an diturunkan

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Sudah disinggung dalam artikel sebelumnya bahwa lailatul qadar merupakan malam di mana al-Qur’an diturunkan di Lauh al-Mahfudz ke Bait al-Izza, langit dunia, sebelum kemudian diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur. Yang dimaksud dengan nuzulul Qur’an. Dr. Abdul Halim Mahmud menjelaskan bahwa surat kerasulan yang membawa rahmat untuk seluruh alam.

2. Malaikat Jibril dan Bersama Rombangan Malaikat Lain Turun ke Dunia

Pada malam lailatul qadar malaikat turun dengan perintah Allah subhana wa ta’ala. Dalam kitab Syahr Ramadlan karya ‘Abdul Halim Mahmud terdapat sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Anas, ia berkata:

إذا كان ليلةُ القدرِ ؛ نزل جبريلُ – عليه السلامُ – في كَبْكَبَةٍ من الملائكةِ، يُصَلُّونَ على كلِّ عبدٍ قائمٍ أو قاعدٍ يَذْكُرُ اللهَ عز وجل ؛ فإذا كان يومُ عِيدِهم، يعني : يومَ فِطْرِهِم - باهَى بهم ملائكتَه، فقال : يا ملائكتي ، ما جزاءُ أَجِيرٍ وَفَّى عملَه ؟ قالوا : رَبُّنا ، جزاؤُه أن يُوَفَّى أجرَه ؛ قال : ملائكتي ، عبيدي وإمائي قَضَوْا فريضتي عليهم، ثم خرجوا يَعِجُّون إلى الدعاءِ، وعزتي وجلالي وكَرَمِي وعُلُوِّي وارتفاعِ مكاني ؛ لَأُجِيبَنَّهم، فيقولُ : ارجِعوا فقد غَفَرْتُ لكم، وبَدَّلْتُ سيئاتِكم حسناتٍ – قال - فيَرْجِعون مغفورًا لهم

“Rasulullah sallaahu ‘alahi wa sallam bersabda apabila tiba lailatul qadar, malaikat Jibril turun ke dunia bersama iring-iringan malaikat. Mereka berdoa atas hamba yang berdiri dan dan duduk dalam menginggat Allah (beribadah). Ketika datang ‘id al-fitri, Allah membanggakan mereka di hadapan malaikat. Allah berfirman: Wahai malaikatku, apakah ganjaran bagi orang yang menyempurnakan amalnya? Mereka menjawab: wahai Tuhanku, balasannya adalah hendaknya menyempurnakan upahnya. Allah kemudian berfirman: Wahai malaikatku, hamba-hambaku laki-laki dan perempuan telah menyempurnakan kewajiban mereka. Kemudian mereka keluar dan meraung-raung berdoa kepadaku. Demi kemuliaanku dan keagunganku, kehormatanku, keluhuranku, dan ketinggian kedudukanku, pasti aku akan mengabulkan doa-doa mereka. Kemudian Allah berfirman kepada manusia: kembalilah kalian dan aku telah mengampun dosa-dosa kalian, telah aku ganti kejelekan kepada kebaikan. Nabi bersabda: mereka kembali dengan mendapat ampunan.”

3. Malam Seribu Bulan

Pada malam lailatul qadar orang-orang memburunya dengan beribadah karena terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Abdul Halim lebih lanjut menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan seribu bulan adalah 83 tahun 4 bulan. Hal itu umur normal manusia. Namun yang pasti, lebih baik dari umur manusia, baik umur manusia terdahulu atau mendatang. Intinya, bahwa lailatul qadar lebih baik dari (usia) zaman.

والألف شهر هي ثلاث وثمانون سنة وأربعة أشهر, وذلك عادة عمر الإنسان, فهي خير من عمر الإنسان, من عمر كل إنسان: من عمر كل إنسان في الماضي وفي المستقبل, أي أنها خير من الدهر

“Seribu bulan adalah delapan puluh tiga tahun empat bulan. Itu merupakan standar umum umur manusia. Lailatul qadr (alfu syahrin) lebih baik dari umur manusia; dari umur setiap manusia, baik umur manusia di masa lalu maupun umur manusia di masa mendatang. Intinya, lailatul qadr lebih baik dari (usia) zaman.”

4. Diampuni Dosa-Dosanya

Pada malam lailatul qadar orang-orang yang beribadah dan diterima oleh Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh-Nya. Hal ini sesuai dengan beberapa riwayat hadith, di antaranya diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Ia berkata:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Rasullullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: barangsiapa yang solat pada malam lailatul qadar dengan keimanan dan mengarap pahala, diampuni dosanya yang telah lampau.”

Wallahu a’lam

Sumber: Abdul Halim Mahmud, Syahr Ramadlan, (Kairo, Dar al-Ma’rif, t.th.), 20-22.

Penulis: Ahmad Fatoni

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jurnalis dan pernah nyantri

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image