Sejarah

Perlu Tahu, Jaka Tingkir Itu Santri dan Raja Pajang

Ilustrasi Jaka Tingkir
Ilustrasi Jaka Tingkir

Sumber: PCNU Cilacap

NYANTRI--Nama Tokoh Jaka Tingkir akhir-akhir ini viral melalui lagu koplo Jaka Tingkir Ngombe Dawet karya Ronald Dwi Febrianzah. Lagu ini menuai kecaman dari beberapa ulama karena liriknya dianggap melecehkan sosok wali tanah jawa tersebut. Dengan permohonan maaf, akhirnya pengarang lagu tersebut merubah lirik Jaka Tingkir dengan nama lain yang berakhiran sama (ir). Keluputan penulisan lirik ini—baik penulis lagu atau penikmat lagu tersebut yang membuatnya hingga viral—menunjukkan ketidaktahuan atau rendahnya kesadaran akan petingnya pengajaran sejarah dalam lingkup pendidikan atau lingkungan. Keluputan ini, di lain sisi selain menuai kecaman dari para ulama dan sejarawan, juga berdampak positif dengan terangkatnya kesadaran masyarakat untuk mengetahui sejarah ketokohan Jaka Tingkir.

Dalam salah satu versi Babad Jaka Tingkir, disebut bahwa Jaka Tingkir merupakan keturunan dari Raja Brawijaya V. Yaitu putra dari Ki Ageng Kebo Kenanga (putra Raja Pajang-Pengging Sri Handayani yang menikah dengan putri sulung Raja Brawijaya V, Ratu Prembayun). Diketahui dari silsilah tersebut, Jaka Tingkir adalah cicit dari Raja Brawijaya V. Menurut Kiai Jadul Maula Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jaka Tingkir tentu adalah seorang santri. Ayahnya merupakan murid Syekh Siti Jenar, sedangkan Joko Tingkir berguru pada Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus. Diriwayatkan pula beliau berguru kepada Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Banyubiru. Selain itu diceritakan HJ De Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senopati, Sunan Kudus mengangkat Aria Penangsang, Jaka Tingkir, dan Sunan Prawata menjadi muridnya.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Ketika remaja Jaka Tingkir dikirim Nyai Ageng Tingkir untuk mengabdi pada Kerajaan Demak. Dengan kecermelangan dalam pengabdiannya itu, Jaka Tingkir diangkat sebagai Adipati Pajang yang bergelar Adipati Adiwijaya. Dalam Serat Kandha diceritakan beliau dipetik menjadi menantu Sultan Trenggono (raja ketiga Demak) dengan menikahi Ratu Mas Cempaka. Pada saat itu Kerajaan Demak terjadi perang saudara antara Arya Penangsang dengan Sunan Prawoto. Pada perang tersebut Sultan Trenggono wafat dan Kerajaan Demak mengalami keruntuhan. Setelahnya terjadi perebutan kekuasaan di kalangan keluarga di Kerajaan Demak pasca meninggalnya Sultan Trenggono. Pada tahun 1549, Sunan Prawoto sebagai penganti dari Sunan Trenggono terbunuh oleh Arya Penangsang yang berasal dari Jipang, lalu kemudian Arya Penangsang berhasil dibunuh oleh Jaka Tingkir yang merupakan menantu dari Sultan Trenggono (Poesponegoro, 2008).

Jaka Tingkir memanfaatkan situasi dengan mengambil alih pemerintahan Kerajaan Demak yang kehilangan penguasanya dan memindahkan kekuasaan ke Kesultanan Pajang. Pada awalnya Pajang merupakan sebuah wilayah kadipaten yang merupakan bagian dari Kesultanan Demak yang terletak di Kelurahan Pajang di Kota Surakarta (Lusiana, 2015). Berdirinya Kerajaan Pajang menjadi sebuah tanda bahwa telah berakhirnya kerajaan Islam yang terletak di daerah pesisir yaitu Demak dan beralih ke wilayah pedalaman yang secara tidak langsung menjadi sebuah kerajaan yang bersifat agraris (Huda, 2015). Setelah kerajaan Demak mengalami keruntuhan, ibukota kemudian dipindahkan ke Pajang sehingga pada saat itu dimulailah pemerintahan kerajaan Pajang (Aman, 2015).

Jaka Tingkir atau nama kecilnya yaitu Mas Krebet merupakan pemimpin pertama di Kesultanan Pajang yang memiliki gelar yaitu Sultan Hadiwijaya (Winata, 2019). Kesultanan Pajang (1549-1582) inilah yang kemudian melanjutkan usaha Walisongo di Demak dalam dakwah menyebarkan dan mengembangkan agama Islam, terutama ke selatan wilayah pedalaman dan ke Jawa Timur. Kesultanan Pajang merupakan kesultanan yang memiliki corak Islam yang hidupnya tergantung pada budaya agraris karena letaknya secara geografis yaitu terletak di pedalaman Jawa yang kemudian pengaruh agama Islam yang menjalar sehingga tersebar ke wilayah pedalaman Jawa, dimana pada masa pemerintahan raja pertamanya yaitu Sultan Hadiwijaya Pajang berusaha untuk mengembangkan kesusastraan dan kesenian Islam (Arki Auliahadi, 2010).

Dalam lingkungan istana, tercipta suasana Islami yang senantiasa diusahakan oleh Jaka Tingkir seperti, dengan adanya tata tertib yang menggunakan adat Jawa berdasarkan ajaran dari Sunan Kalijaga dan juga terdapat adat atau kebiasaan seperti cara berpakaian, makan dan bergaul dengan lingkungan keluarga maupun masyarakat yang dimana adat atau kebiasaan tersebut telah diajarkan atau diberikan kepada setiap individu sejak lahir. Untuk dapat meghaluskan perasaan diberikan pelajaran berupa pelajaran kesenian dan terdapat beberapa pendidikan diantaranya yaitu pendidikan untuk dapat membentuk bagaimana karakter seseorang ialah pendidikan kasatupan yang sesuai dengan upacara ngelmu iku kelakone kanthi laku yang memiliki arti ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan cara yang tidaklah mudah, ngelmu pangawikan yaitu pendidikan agar dapat menguasai ilmu seperti ilmu menjinakkan hewan misalnya kuda dan harimau, ngelmu kasantikan agar seseorang memiliki kebijakan dan kebijaksanaan hidup (Maulana, 2015).

Sumber:

Arki Auliahadi, D. N. (2010). Tumbuh dan Berkembangnya Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Majalah Ilmiah Tabuah: Ta'limat, Budaya, Agama dan Humaniora.

Aman, H. A. (2015). Pengembangan Maket Pusat-pusat Pemerintahan Kerajaan Mataram Islam sebagai Alternatif Media Pembelajaran Sejarah. Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, 10.

Babad Jaka Tingkir

Graaf, HJ De. (1987). Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senopati. Jakarta: Pustaka Grafiti Pers.

Huda, N. (2015). Perkembangan Institusi Sosial Politik Islam Indonesia Sampai Awal Abad XX. ADDIN.

Lusiana. (2015). Perlawanan Sutawijaya Terhadap Sultan Hadiwijaya dari Pajang Tahun 1578.

Maulana, D. (2015). Peran Jaka Tingkir dalam Merintis Kerajaan Pajang 15461586. 23-42.

Poesponegoro, M. D. (2008). Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka.

Serat Kandha

Winata, A. (2019). Strategi Kepemimpinan Sultan Hadiwijaya di Kesultanan Pajang Tahun 1549-1582. 100.

Penulis: Arif A'abadia

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Patner Resmi Republika.co.id