Empat Fase Perkembangan Pesantren Sarang (1)

Sejarah  
Aktivitas Santri di Pesantren Sarang
Aktivitas Santri di Pesantren Sarang

Sumber: Sendiko.net

NYANTRI--Pesantren Sarang dikenal sebagai pondok yang memiliki eksistensi mempertahankan ajaran keislaman klasik (Salafus shalih). Sekalipun begitu, ajaran yang ditanam tersebut tidak menutup diri dari kemungkinan dan perkembangan teknologi. Yang kemudian para alumninya dikenal sebagai ulama yang getol dalam mempertahankan nilai-nilai kesalafan dan mengikuti perkembangan. Kemajuan prestisius Pesantren Sarang kini tidak dapat dipisahkan dari peran para kiai Sarang, semenjak zaman pendirinya, Kiai Ghazali ibn Lanah, yang kemudian dilanjutkan oleh keturunan dan santri-santrinya hingga sekarang.

“Dalam perkembangannya, Pesantren Sarang terbagi menjadi empat putaran. Fase Pertama, pada zaman Kiai Ghazali ibn Lanah. Fase kedua, pada masa Kiai Umar ibn Harun. Fase ketiga, pada zaman Kiai Fathurrahman ibn Ghazali. Fase keempat, pada zaman Kiai Ahmad ibn Syuaib dan Kiai Zubair ibn Dahlan. Setelah Kiai Ahmad ibn Syuaib dan Kiai Zubair ib Dahlan wafat, Pesantren Sarang terpecah menjadi beberapa peantren. Ada pesantren MIS (Ma’hadul Ilmi Asy-Syar’ie), MUS (Ma’hadul Ulum Asy-Syar’iyyah), Mansya’ul Huda, Al-Amin, dan Al-Anwar.” [Kiai Maimoen Zubair, Tarajim Masyayikh Al-Ma’ahid Ad-Diniyyah bi Sarang Al-Qudama’, Rembang: PP. Al Anwar, tt, hal 34-35].

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Mulanya Pesantren Sarang hanya satu yang diasuh Kiai Ghazali ibn Lanah, yang kini dikenal dengan Pesantren MIS. Lambat laun dengan bertambahnya keturunan Kiai Ghazali ibn Lanah dan didorongnya dengan keinginan mandiri dalam sistem kelembagaan, maka hal tersebut mengharuskan adanya pemisahan dalam diri kepengurusan pesantren. Keputusan ini bagian dari perkembangan pesantren yang wajar terjadi.

Fase Pertama Pesantren Sarang; Kiai Ghazali Ibn Lanah

Kiai Ghazali ibn Lanah merupakan pendiri Pesantren Sarang. Beliau berdarah Madura, yaitu Desa Kelampis, Bangkalan. Ia dilahirkan pada 1184 H/1768 M. [Kiai Maimoen Zubair, Tarajim Masyayikh Al-Ma’ahid Ad-Diniyyah bi Sarang Al-Qudama’, Rembang: PP. Al Anwar, tt, hal 7]. Ia putra dari pasangan Kiai Lanah dan Nyai Saliyah. Ia empat bersaudara, yaitu Salija, Hasan, Nyai Sento (istri dari Kiai Harun, Ayah Kiai Umar ibn Harun), dan Katibah. [Haji Muhammad Abil Fuad (Karamangu, Sarang), Sab’atu Salasila (nasab Masyayikh Sarang)].

Nama kecil Kiai Ghazali adalah Saliyo, yang setelah menunaikan haji nama tersebut berganti menjadi Saliyo. Tafa’ulan dengan Imam Ghazali, Hujjatul Islam. Kiai Ghazali terbilang kiai yang muammar, umurnya panjang, yakni sekitar 138 tahun, wafat pada tahun 1324 H/1906 M.

Mulanya Kiai Ghazali belajar ilmu agama kepada kedua orang tuanya, yang kemudian dilanjutkan kepada Kiai Hasan Mursyidin, pengasuh Pesantren Blitung Kalipang. Kiai Hasan Mursyidin dikenal sebagai pakar gramatikal arab, yang kemudian para santrinya juga dikenal pakar dalam bidang tersebut.

Suatu ketika, ada seorang santri dari Makam Agung Tuban yang bernama Jawahir. Beliau adalah murid dari Kiai Ma’ruf dan ingin kembali ke pondoknya setelah beberapa hari tinggal di kampung halamannya (Leran, Rembang). Di tengah perjalanannya, menyempatkan diri untuk mampir di pesantren Belitung. Di pesantren ini, beliau bertemu dengan Saliyo hingga ia menginap di kamarnya. [Amirul Ulum, KH. Maimoen Zubair Sang Kiai Teladan, Yogyakarta: Global Press 2019, hal 15].

Dari pertemuan inilah nantinya terjadi diskusi yang menarik antara pakar Gramatika Arab, yakni Saliyo dengan pakar fiqih, yakni Jawahir. Sebelum diskusi berlangsung keduanya membuat kesepakatan bersama. “Siapa yang kalah harus ikut nyantri bersama sang pemenang.”

Diskusi pun dimulai dengan seru dan saling menghormati di antara keduanya. Namun, keduanya sama-sama unggul dalam bidangnya masing-masing. Pada akhirnya keduanya sepakat saling bertukar tempat menuntut ilmu. Saliyo yang asalnya mondok di Belitung berpindah di Makam Agung Tuban, sedangkan Jawahir yang asalnya mondok di Makam Agung Tuban berpindah di Belitung. Dengan demikian Saliyo telah berhasil mendapatkan tambahan ilmu fiqih. Sehingga dengan menguasai ilmu Gramatika Arab dan Fiqih ilmunya menjadi lebih lengkap guna bekal dakwahnya mengembangkan agama Islam di Sarang dan sekitarnya.

Perjodohan Tak Terduga

Ketika nyantri di Pesantren makam Agung Tuban, Saliyo dapat dikatakan santri yang menonjol apalagi dalam bidang Gramatika Arab. Suatu ketika, Kiai Ma’ruf ingin menguji santri-santrinya dalam bidang Gramatika Arab. Tidak tanggung-tanggung ujiannya ini, sebab barang siapa yang dapat menjawabnya, maka akan dijadikan menantu, akan dinikahkan dengan adik iparnya (adik istri KH. Ma’ruf), yang bernama Nyai Pinang [Amirul Ulum. KH. Zubair Dahlan Kontribusi Kiai Sarang Untuk Nusantara & Dunia Islam, Yogyakarta: Global Press, 2018, hal. 77] atau Nyai Mondoliko, putri KH. Muhdlor Sidoarjo.

Pertanyaan yang diajukan berkenaan masalah idzā (istilah dalam Gramatika Arab, Nahwu). Ketika pertanyaan Nahwu tersebut dituturkan, ternyata tidak ada satupun santri yang bisa menjawabnya.

Di tengah keheningan itu, tiba-tiba ada seorang santri berkata, “Nuwun sewu Yai wonten santri ingkang saged jawab. Asmonipun Saliyo ingkang dipun dilaqobi tumpul.” (Maaf kiai, ada santri yang mampu menjawab. Namanya Saliyo yang biasa disapa tumpul). [Tim Karya Ilmiah MGS, Mengenal Lebih Dekat Masyayikh Sarang, Yogyakarta: Global Press, 2018, hal. 14-15]. Karena fan Nahwu tergolong fan yang disukai dan dikuasai Saliyo selama di nyantri di Belitung, maka beliau pun dapat menjawabnya dengan mudah. Kiai Ma’ruf merasa puas dengan jawaban Saliyo. Beliau pun menepati janjinya untuk menikahkan adik iparnya yang bernama Nyai Pinang dengannya. Dari pernikahan ini beliau dianugerahi 6 keturunan, yang terdiri dari 4 putri dan 2 putra, mereka adalah:

1. Nyai Saidah (istri Kiai Syu’aib bin Abdurrozak)

2. Nyai Syamsirah (istri Kiai Umar bin Harun)

3. Nyai Syari’ah (istri Kiai Thoyyib)

4. Nyai Shabirah (istri Kiai Syamsuri)

5. Kiai Abdur Ra’uf (tidak punya anak)

6. Kiai Fathurrahman.[Tim Karya Ilmiah MGS, op.cit, hal. 15]

Setelah menikah dengan Nyai Pinang, beliau kembali ke kampung halamannya untuk menyebarkan ilmu yang ditimbanya selama nyantri. Kurun waktu Saliyo menimba ilmu bisa dibilang cukup lama, yakni sampai ia berumur 42 tahun. Dengan lamanya nyantri yang disertai dengan ketekunan ini, maka tidak mengherankan jika beliau menjadi sosok santri yang menonjol, alim. Sebuah upaya mengagumkan dalam rangka memperkaya wawasan intelektual. [Amirul Ulum. KH. Zubair Dahlan Kontribusi Kiai Sarang Untuk Nusantara & Dunia Islam, Yogyakarta: Global Press, 2018, hal. 77].

Rihlah Ke Tanah Haram

Untuk melengkapi rukun Islam yang kelima, pada pertengahan abad ke XIII Kiai Ghazali dan Nyai Pinang menunaikan ibadah haji ke Haramain dengan menggunakan perahu layar. Dalam mengarungi samudra yang luas dengan ombak yang bergelombang ganas, maka sampailah keduanya di pelabuhan Jeddah setelah menempuh perjalanan selama 7 bulan lebih. Pada waktu itu jama’ah haji telah selesai menjalankan wuquf di Arafah, maka mau tidak mau, jika ingin menyempurnakan hajinya dia harus menunggu setahun lagi. Masa penantian ini tidak beliau sia-siakan yaitu dengan belajar kepada ulama Haramain guna mematangkan keilmuannya.

Kiai Ghazali aktif dalam menghadiri halaqoh ulama Haramain yang diselenggarakan diserambi Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan kediaman Syekh. Beliau juga rajin mencatat kitab yang diajarkan tersebut, seperti kitab Tafsir Jalalain, Fathul Mu’in, Bulugh al-Maram, Hasyiyah ad-Dasuki, yang selesai ditulis pada tanggal 6 syawal 1280 H/15 Maret 1864 M. [Ibid, hal 79]. Manuskrip tersebut sampai sekarang masih tersimpan rapi di Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah (MGS). [Amirul Ulum, KH. Maimoen Zubair Sang Kiai Teladan, Yogyakarta: Global Press 2019, hal 18]. Setelah menunaikan ibadah haji, beliau mengganti namanya yang asalnya Saliyo diganti menjadi Ghozali karena tafaulan terhadap Imam Ghazali. Untuk mengenang jasa-jasanya, namanya diabadikan sebagai nama Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah (MGS) yang ada di Karangmangu, Sarang, Rembang.

Keistimewaan Lain dari Kiai Ghazali ibn Lanah

Selain sosok yang tersohor akan kealimannya dan disegani di Sarang, beliau juga mempunyai banyak karomah. Di ceritakan pada suatu hari, kala itu, Camat Sarang selesai melakukan SIDAK (inspeksi mendadak) di desa sekecamatan Sarang termasuk desa Karangmangu. Pak Camat naik kuda ke arah barat untuk pulang, namun di tengah perjalanan, ia melihat pancaran sinar yang terang memenuhi jalan, sehingga ia tidak bisa melewati jalan karena pancaran sinar tersebut. Ia begitu terkejut begitu tahu bahwa sinar itu berasal dari wajah Kiai Ghozali. [Tim Karya Ilmiah MGS, Mengenal Lebih Dekat Masyayikh Sarang, Yogyakarta : Global Press,2018, hal. 19].

Ibn Abad

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jurnalis dan pernah nyantri

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image