Nabi Suka Wewangian, Kebersihan dan Kerapian

Umum  
Ilustrasi wewangian
Ilustrasi wewangian

Sumber: republika

NYANTRI--Nabi adalah orang yang paling Zuhud di antara manusia, ia tidak mencintai dunia secara berlebihan. Jika pun mempunyai harta, hal itu ditujukan untuk kepentingan agama serta menyadari jika harta tersebut adalah titipan Allah Swt. Meski hidup sederhana, justru tidak membuat Nabi berpenampilan awut-awutan. Hal itu keluar dari makna zuhud, akan tetapi, beliau tetap menyukai kebersihan, wewangian dan kerapian. Biasanya, jika hendak bertemu dengan orang lain, beliau menggunakan pakaian yang rapi dan tubuh yang bersih.

Nabi tidak suka dengan bau tidak sedap. Beliau mempunyai sakkah (minyak wangi) yang beliau sering pakai. Maka dari itu, beliau tidak pernah menolak ketika diberi hadiah wewangian karena menjadi kesenangan beliau.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Dari banyak riwayat bahwa dalam kegiatan sehari-sehari, apalagi dalam ibadah Nabi selalu menggunakan minyak wangi. Siti Aisyah ra. berkata:

كنت اطيب رسول الله لإحرامه حين يحرم. و لحل قبل أن يطوف بالبيت

Artinya: “Aku memberikan minyak wangi ketika beliau ihram, dan melepaskan ihramnya sebelum thawaf di Baitullah.” Atau “aku memberikan minyak wangi kepada Rasulullah sehingga beliau mengkilatkan rambut dan janggutnya ketika ihram.”

Rasulullah mempunyai selimut bernama Za’faran. Kadang beliau menggunakanya solat bersama orang banyak. Karena itu beliau selalu wangi. Hal itu terekam dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik ra, bahwa beliau berkata:

ما شممت ريحا قط او عرفا قط أطيب من ريح النبي أو عرفه.

Artinya: “Aku belum pernah mencium yang lebih wangi daripada beliau.”

Bila bangun malam, beliau akan menggosok giginya dengan sugi. Rasul berkata: “bila umatku tidak keberatan, maka aku akan menyuruh mereka menggosok gigi setiap kali solat.”

Hal ini sepele, akan tetapi wewangian merupakan langkah kecil agar orang menjadi betah dengan kita serta menjadikan suasana menjadi nyaman. Selain itu, beliau juga suka pada hal yang rapi dan bersih. Rasulullah sallalaahu ‘alaihi wa sallam selalu menyisir rambut dan jenggotnya serta memberikan minyak pada rambutnya agar nampak rapi. Beliau juga sering memakai kain agar minyak dirambutnya tidak mengenai surbannya.

Memakai baju yang bagus dan rapi merupakan kesenangan Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam selama tidak merendahkan orang lain. Semisal orang memakai baju dengan harga miliyaran, akan tetapi tetangganya kelaparan ia tidak dapat membantunya. Maka, hal itu menjadi kesalahan besar bagi. Kecuali, ia membantu orang miskin di sekitarnya secara bersamaan.

Dengan memakai pakaian yang baik bukan berarti ia adalah orang yang sombong dan tidak zuhud. Justru Allah menyukai perkara yang indah. Dalam sebuah riwayat:

فقد سأله رجل : يا رسول الله، إني أحب ان يكون ثوبي حسنا و نعلي حسنة، أفمن الكبر ذاك؟ فقال: لا، إن الله جميل يحب الجمال، الكبير بطر الحق و غمط الناس.

Artinya: Seorang bertanya, “Ya Rasulallah, aku memakai sandal dan baju yang baik. Apakah itu takabbur?” Rasul menjawab, “Tidak, Allah itu indah dan menyukai keindahan. Takabbuق itu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”

Maka dari itu, umat islam seharusnya meniru perilaku dari segi berpakaian Nabi serta kebiasaannya dalam menggunakan wewangian. Sehingga, image umat islam di mata nn-muslim sebagai seorang yang memperhatikan kebersihan, kerapian serta senang terhadap wewangian. Wallahu a’lam.

Sumber:

Disarikan dari Ahmad Muhammad Hufi, Min Akhlak an-Nabi, (Kairo: t.pt., 1994), hlm. 271-272.

Ahmad Fatoni

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jurnalis dan pernah nyantri

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image