Tahu Gak Sih, Burung Adalah Hewan yang Berkontribusi Besar terhadap Peradaban Islam

Sejarah  
Burung merpati beterbangan di sekitar Masjid Quba, Madinah, Arab Saudi
Burung merpati beterbangan di sekitar Masjid Quba, Madinah, Arab Saudi

Dok. Republika

NYANTRI--Anda pasti pernah melihat bagaimana burung-burung menghiasi taman-taman kota. Berkat hewan itu taman menjadi lebih indah nan eksotik. Tetapi tak semua burung itu mendapatkan perlakuan baik dari manusia karena ada juga yang mengusirnya.

Tahukah Anda bahwa burung juga tercatata dalam catatan sejarah peradaban manusia. Ada banyak cerita di dunia yang menceritakan bagaimana burung diperlakukan. Berikut penjelasan bagaimana burung dalam peradaban Islam.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Dikutip dari Muslimheritage di kota Ukraina pernah melakukan upaya mengusir burung-burung dengan cara membuat mabuk burung tersebut supaya tidak menemukan rumah mereka. Di kota-kota lain sengaja memanggil burung elang untuk menakuti burung-burung tersebut.

 

Berbeda dengan Mesir, orang Mesir kuno menjadikan burung sebagai personifikasi dewa utama mereka. Namun, pada zaman modern, burung kemudian dianggap sebagai gangguan bagi penduduk kota. Industrialisasi pun menganggap burung tersebut sebagai ancaman.

Perlakukan terhadap hewan, termasuk burung masuk dalam catatan peradaban Islam. Menghormati seluruh makhluk, termasuk burung di alam ini merupakan ajaran Islam. Ada banyak hadis yang menjelaskan tentang perintah agar bersikap baik kepada seluruh makhluk.

Seperti salah satu pengikut Rasulullah bertanya “Ya Rasulullah! apakah ada hadiah untuk kita dalam melayani binatang? “Dia menjawab: Ya, ada hadiah untuk melayani binatang hidup (makhluk hidup),” (HR. Abu Huraira).

Baca Juga: https://nyantri.republika.co.id/posts/196566/memahami-lagi-pemikiran-islam-nusantara-kiai-said-aqil-siraj

https://nyantri.republika.co.id/posts/196557/jokowi-sudah-nyatakan-2015-lalu-lho-islam-indonesia-ya-islam-nusantara

Di dalam ayat alquran pun diterangkan tentang tanggungjawab manusia dalam berinteraksi dengan hewan. Rasulullah pun telah mengajarkan untuk berbelas kasih kepada seluruh makhluk ciptaan Allah.

Perintah alquran agar menghormati dan menyayangi seluruh makhluk di muka bumi bisa jadi menjadi alasan peradaban Islam begitu mencintai dan menghormati burung. Sehingga hingga sekarang banyak burung-burung berkeliaran dibiarkan oleh umat Islam, meskipun burung-burung tersebut berkeliaran di tempat suci, seperti masjid.

Dalam sejarah peradaban Islam disebutkan, burung banyak memiliki kegunaan antara lain sebagai penyampai pesan. Dia bisa berfungsi sebagai penerima dan pengantar pesan ke berbagai kota. Al-Nuwayri, seorang penulis sejarah Islam bercerita tentang seorang Khalifah Fatimid abad ke-10. Waktu itu 600 merpati dilepaskan, masing-masing burung terdapat satu ceri di dalam tas sutra yang diikat di kaki burung tersebut.

Khalifah Fatimid juga pernah mempunyai 1.2000 ceri segar dari Libanon yang datang melalui pengiriman pos udara yaitu merpati. Ada banyak cerita lainnya dalam peradaban Islam tentang kegunaan burung.

Bahkan burung juga menjadi inspirasi ilmuwan Islam yaitu Ibnu Firnas. Dia melakukan eksperimen cara penerbangan dengan mempelajari cara burung terbang. Pada 852 M, dia melompat dari puncak Menara masjid Agung di Cordoba. Perangkat terbang yang ia ciptakan didasarkan anatomi burung.

Eksperimen yang dilakukannya gagal meluncur. Namun hasil eksperimen tersebut membuat proses jatuh yang melambat sehingga meminimalisir cedera. Beberapa orang berasumsi eksperimen ini menjadi tampilan awal dari parasut.

Burung juga sering digunakan dalam tradisi literal peradaban Islam. Ia sering tampil dalam banyak cerita, puisi atau mitos. Dia digunakan sebagai metafora guna menggambarkan tentang spiritual dan lain sebagainya.

Tidak hanya sastra, burung juga digunakan pada karya-karya ilmiah dalam khazanah peradaban Islam. Keberadaan burung pada karya ilmiah dalam disaksikan dalam banyak manuskrip dari zologi hingga astronomi.

Merawat burung sudah menjadi kebiasaan popular dalam peradaban Islam. Tujuannya tak lepas dari dua hal yaitu bentuk pemuliaan dan balap burung. Budaya balap burung ini masih berlangsung di beberapa negara Islam saat ini. Meskipun terdapat kontroversi karena pada kegiatan ini seringkali terjadi praktik perjudian.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jurnalis dan pernah nyantri

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image